Sebelum lahirnya nama Desa Pringgasela, salah seorang tokoh agam Islam bernama Lebae Nursini, ia datang dari Sulawesi setelah singgaj di Pulau Sumbawa untuk menyebarkan agama Islam. Oleh penduduk Pringgasela menganggapnya sebagai seorang wali, karena ketakwaan dan tekanannya mengajarkan agama Islam. Sambil beliau mengajarkan agama Islam kepada penduduk, iapun mengajarkan cara bertani dan menenun. Dengan memamfaatkan bunga bunga kapas yang tumbuh liar di sepanjang huma-huma. Kapas itu dikumpulkan dan dijemur lalu dipintal dengan menggunakan alat sederhana yang sekarang di sebut ganti (gentian), petuk, saka, dan kanjian. Selanjutnya bunga kapas yang telah menjadi benang diberi warna dengan zat pewarna yang terbuat dari tumbuh tumbuhan, akar dan kulit kayu yang selanjutnya disesek(ditenun) dengan menggunakan balok-balok kayu sederhana yang dirakit sedemikian rupa menjadi alat tenun sederhana yang disebut alat tenun gedogan.

Dengan memanfaatkan bunga bunga kapas yang tumbuh liar di sepanjang huma-huma. Kapas itu dikumpulkan dan dijemur lalu dipintal dengan menggunakan alat sederhana yang sekarang di sebut ganti (gentian), petuk, saka, dan kanjian.
Sejarah Pringgasela

Lebai Nursini

Sampai saat ini kain tenun yang dibuat oleh Lebai Nursini masih tersimpan sebagai pusaka leluhur Desa Pringgasela yang disebut Reragian.Disamping itu terdapat umbul-umbul / atau penjor pertama dan tertua di Indonesia yang berumur sekitar 288 tahun dan terbuat dari rajutan potongan kain tenun yang disebut Tunggul. Kata Tunggul disarikan dari kata tunggal/satu/Esa yang di hubungkan dengan   nilai norma agama bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu hanya satu, yaitu ALLAH SWT. Tunggul yang panjangnya sekitar 35 meter pernah didirikan pada tahun 1974 dalam upacara perkawinan yang disebut “boteng Tunggal Gawe Desa” oleh masyarakat Pringgasela kedua benda pusaka ini dianggap mempunyai kekuatan magis dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sehingga sampai saat ini kedua benda pusaka itu masih tersimpan rapih sebagai Pasek Desa dan induk dari semua kain tenun yang dibuat para pengrajin saat ini.

Pada zaman colonial, ketika Lombok menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, penduduk dipaksa bekerja dibidang pertanian dan pembangunan jalan-jalan dengan imbalan yang tidak sebanding.Sedangkan ibu-ibu dan gadis remaja dipaksa nyeseek (bertenun) kain Gegerot yang disebut ragi Genil atau KNIL untuk keperluan serdadu-serdadu Belanda.Pada zaman penjajahan Jepang, rakyat sangat menderita.Hasil pertanian dan harta benda rakyat diambil untuk kepentingan perang Asia Timur Raya.Para petani diwajibkan menanam kapas dan tarum untuk bahan membuat kain.Pintalan rakyat serta hasil tenunan kain disita, para pengrajin hanya boleh menenun untuk kepentingan Jepang. Ibu-ibu dan gadis dipaksa dipaksa untuk menenun kain osap, dan bebasak berjenis kain kafan yang sangat jarang untuk perban tentara Jepang yang luka dan tewas di medan perang. Sejak saat itu kain tenun tradisional Gedogan ini terkenal dan dibuat secara massal.

Kerajinan tenun tradisional gedogan diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini. Pada awal nya semua desa yang ada diwilayah Pulau lombok mengembangkan tenun sebagai pekerjaan rumah tangga khusus nya kaum ibu. Tetapi yang masih bertahan hingga saat ini hanya beberapa desa diantara lain :

  1. Lombok timur terdapat di desa pringgasela, kembang kuning, Dasan Nyiur, dan Desa Sukaraja.
  2. Lombok Tengah terdapat di Desa Sukarara, Rembitan, Sade, dan Ganti.
  3. Lombok Utara terdapat di Desa Sokong dan Desa Bayan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *