Ketika berjalan menelusuri desa ini, tampak deretan hunian yang kebanyakan berupa rumah beton. Antara satu rumah dan rumah lain sangat rapat sekali. Jalan masuk kampong juga hanya pas untuk sebuah mobil, sehingga kalo berpapasan harus ada yang mengalah sementara diantara jalan itu terdapat gang-gang terhubung antara satu rumah dengan rumah yang lain, yang hanya cukup untuk sebuah kendaraan roda dua.

Sebagian besar rumah memiliki teras, dengan halaman yang sempit, atau tidak jarang tanpa halaman sama sekali. Dengan demikian, jarak antara rumah dan jalanan sangat dekat. Hanya ada satu dua rumah yang memiliki beruga, yang selama ini menjadi ciri khas rumah-rumah di Lombok.
Identitas Budaya Lombok

Identitas Budaya Lombok

Sebagian besar rumah memiliki teras, dengan halaman yang sempit, atau tidak jarang tanpa halaman sama sekali. Dengan demikian, jarak antara rumah dan jalanan sangat dekat. Hanya ada satu dua rumah yang memiliki beruga, yang selama ini menjadi ciri khas rumah-rumah di Lombok. Warung warung kelontong menyelip diantara gang yang sempit. Catatan administrasi desa menyebut pertanian merupakan tulang punggung utama ekonomi desa ini, tetapi ketika keliling didalam dan antara jalan dan gang di desa ini kesan ini mungkin akan mencair ketika melihat rumah-rumah yang begitu padat dan kebanyakan berupa beton. Keadaannya seperti rumah diperkotaan saja selain itu, ketika menelusuri jalan-jalan dan gang-gang ini, kita tak bisa menyembunyikan pemandangan banyaknya para perempuan menemui baik di teras maupun didalam rumah. Suaranya “kletak-kletak”

bersahutan sepanjang hari, bahkan tak jarang dimalam hari, kecuali di waktu shalat waktu makan atau waktu waktu tertentu yang tabu untuk menenun. Didepan rumah sering kita lihat juga, ‘gedogan’, alat tenun tradisional, dalam keadaan terbuka dan tak jarang ada himpunan benang, menandakan bahwa gedogan itu sedang digunakan. Diantara halaman yang sempit itu juga tak jarang kita lihat jemuran yang digunakan untuk menggantungkan dan mengeringkan benang warna alam warna warni yang menjuntai panjang.

Tak ada catatan resmi berapa jumlah para penenun di desa ini. Dalam sebuah pertemuan di kantor kecamatan Pringgasela, dikatakan jumlah penenun di kecamatan Pringgasela adalah 900an orang. Dari jumlah itu, 300 diantaranya diyakini tinggal di Pringgasela selatan dan sebagian besar mereka terkonsentrasi di dusun gubuk lauk sekali lagi taka da catatan mengenai persebarannya. Pengabaian ini mungkin terjadi karena ada anggapan bahwa menenun bukan pekerjaan utama. Hanya pekerjaan tambahannya saja. Karna itu pula dalam catatan desa, menenun tidak masuk dalam daftar pekerjaan penduduk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *